Kita butuh inovasi. Inovasi yang mampu menggerakkan denyut nadi kehidupan manusia semakin menggembirakan. Inovasi yang tak sekadar menjawab tantangan zaman, namun mampu mewujudkan kehidupan yang lebih baik dan sejaktera.

Di era modern ini, perubahan tak lagi bergerak dalam ritme repetisi. Perubahan berlangsung sangat cepat akibat ritme eksponensial (perkalian pangkat). Akibatnya, cara kerja lama yang wataknya mengulang-ulang cara kerja generasi sebelumnya akan tertinggal jauh. Cara lama tidak mampu menjawab problem-problem zaman kekinian.

Pembangunan desa dan daerah tertinggal harus mampu menjawab tantangan zaman. Model pendekatan pembangunanisme (developmentalism) sudah kandas, karena dia tidak menjawab permasalahan hingga akarnya. Pembangunan di daerah tertinggal tak sekadar menyelesaikan minimnya infrastruktur, tapi juga mental dan kapasitas masyarakatnya sebagai aktor perubahan.

Untuk melahirkan inovasi desa dan daerah tertinggal, langkah pertama adalah mengumpulkan penemuan-penemuan (dicovery) yang berserak di beragam desa dan daerah. Strategi induktif ini kadang dianggap sebelah mata karena perencana pembangunan harus mampu menghubungan aktor, sektor, dan regulator yang sangat beragam.

Para perencana biasanya gagal mendayagunakan beragam “kemenangan kecil” yang terserak sebagai platform dan modal dasar perubahan sosial. Mereka lebih menyukai pendekatan deduktif, peta besar, yang acapkali berujung pada kegagalan akibat terjebak dalam jurang over generalisasi.

Sistem Dokumentasi Inovasi Desa dan Daerah Tertinggal mengumpulkan, memilah, dan menyebarluaskan beragam praktik baik yang ada di dunia perdesaan. Untuk mengumpulkan praktik baik, kerja kemitraan antara pemerintah, lembaga swadaya masyarakat, dan pihak swasta menjadi kuncinya.

Program ini akan memfasilitasi dukungan inovasi, peningkatan kapasitas, dan berbagi pengetahuan dalam kewirausahaan dan pengembangan ekonomi lokal, pengembangan sumber daya manusia, dan infrastruktur perdesaan.