Desa Beji Kecamatan Kedungbanteng, Kabupaten Banyumas, telah dikenal luas soal urusan budidaya gurami (osphronemus goramy). Kiprah pembudidaya ikan Desa Beji sudah mampu menembus tingkat nasional. Tak heran, desa ini dikenal sebagai surganya gurami di Indonesia.

Sejak 1990an ikan gurami telah menjadi ikon Desa Beji. Berkat keseriusan dan produktivitas para pembudidaya gurami, Desa Beji dijuluki sebagai kawasan Minapolitan. Minapolitan merupakan sebutan bagi daerah yang mengembangkan ekonomi berbasis budidaya perikanan. Untuk mendukung kawasan minapolitan, Pemerintah Kabupaten Banyumas membangun tugu ikan gurami. Hingga kini, tugu itu menjadi maskot dan ikon Desa Beji.

Nama InovasiKawasan Minapolitan Ikan Gurami
PengelolaPemerintah Desa Beji
AlamatDesa Beji, Kecamatan Kedungbanteng, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah
Penanggung jawabRomini (Kaur Keuangan)
Kontak+62-858-4252-1399
Websitehttp://beji.desa.id

Para pembudidaya ikan di Desa Beji biasanya mengembangkan usahanya secara berkelompok. Pada 2015, Pemerintah Desa Beji mencatat ada 21 Kelompok Pertanian dan Budidaya Ikan (Pokdaka) di wilayahnya. Pokdaka Pamuji Inggil merupakan salah satu kelompok yang mampu  menyabet juara dua tingkat nasional untuk kategori Unit Pembenihan Rakyat (UPR).

Pokdaka Pamuji Inggil memiliki 25 anggota yang memiliki pengalaman mendalam pada urusan budidaya gurami. bukan tanpa sebab. Kelompok ini mengelola lahan seluas 1,5 hektar yang terdiri dari 21 kolam dan 253 petak seluas 4×4 meter.

Reputasi baik petani ikan Desa Beji tak lepas dari kesuksesan mereka mengembangkan gurami indukan. Satu induk gurami mampu memproduksi 5.000 telur dalam 15-20 hari. Petani menjual nener atau larva gurami seharga 25 rupiah per ekor.

Setiap petak biasanya diisi  empat betina dan satu pejantan. Bila diambil rata-rata, satu petak kolam mampu menghasilkan 500 ribu rupiah perhari. Pemilihan bisnis di bidang pembibita lebih ekonomis dan minim risiko.

Sejarah Desa Beji dan perikanan sudah berlangsung sangat lama. Nama Beji secara etimologi berarti “sumur/belik” atau “sumber Air”. Memang di desa ini terdapat sebuah sumber Air yang sangat besar/belik sumber itu berada di lembah dekat tepian Sungai Banjaran. 

Pada 1970-1990, banyak warga desa yang mengembangkan pembenihan ikan gurami. Pada waktu itu, Desa Beji banyak didatangi para petani dan pedagang dari luar desa untuk mendapatkan benih ikan, terutama ikan gurami. Periode inilah yang menjadi latar pengembangan kawasan minapolitan di Desa Beji.