Indonesia memiliki banyak potensi alam yang unik dan berlimpah sebagai sumber potensi produk indikasi geografis yang berlimpah dan tersebar di seluruh Indonesia. Dari keunikan potensi alam tersebut, lahirlah Sertifikasi Indikasi Geografis.

Faktor lingkungan geografis memberikan ciri khas dan kualitas tertentu pada produk yang dihasilkan. Lingkungan geografis dapat berupa alam, manusia, atau kombinasi keduanya. Sertifikasi Indikasi Geografis digunakan pada produk tertentu yang sesuai asal atau lokasi geografis tertentu.

Nama Inovasi Kopi Liberika, Produk Unggulan Desa
Pengelola Badan Usaha Milik Gampong (BUMG) Bukit Indah
Alamat Gampong Blang Dhod, Kecamatan Tangse, Kabupaten Pidie, Aceh
Kontak Eddy Azhari (Sekretaris Gampong Blang Dhod)
Telepon +62-812-6900-9504 (Eddy)/+62-811-3315-262 (Sayed Mudasir)
Website https://www.blangdhod.desa.id

Kopi merupakan salah satu komoditas unggulan dalam sektor perkebunan yang banyak dibudidayakan di Indonesia. Tanaman ini mampu meningkatkan devisa negara karena nilai ekspornya terus meningkat. Hingga saat ini, ada sejumlah spesies kopi yang banyak dibudidayakan, diantaranya adalah kopi robusta, kopi arabika, dan kopi liberika.

Akhir-akhir ini, Kopi liberika merupakan jenis tanaman kopi yang sedang marak diperbincangkan. Kemampuannya untuk dapat beradaptasi di perlbagai jenis lahan termasuk lahan gambut merupakan salah satu kelebihan dari kopi ini.

Setelah Indonesia merdeka, komoditi kopi robusta semakin kuat daya tariknya. Di Tangse, hampir 70 prosen masyarakat menggantungkan hidupnya dari “biji emas hitam” itu. Banyak pemuda Tangse yang bersekolah keluar daerah dibiayai dari hasil panen kopi. Bahkan, orang setempat mengongkosi perjalanan haji mereka menggunakan uang dari hasil panen kopi.

Di era 1990-an, gairah petani Tangse mempertahankan kopi sebagai pendapatan utama memudar. Gejolak politik di Aceh menjadi salah satu penyebabnya. Konflik antara Gerakan Aceh Merdeka dan Pemerintah Indonesia menyebabkan gelombang pengungsian ke Kecamatan Mutiara pada 2000.

Tak lama memang. Masyarakat pemilik kebun kopi itu hanya mengungsi selama tiga bulan. Tapi waktu yang singkat itu cukup untuk “membunuh” pohon kopi dan sejumlah komoditas lainnya. Sejak itu pula, perlahan-lahan, bertani kopi mulai ditinggalkan.

Setelah keadaan kembali kondusif, usai penandatanganan perjanjian damai antara GAM dan RI, para petani mulai kembali “angkat cangkul”. Mereka kembali naik ke gunung dan mulai menggarap kembali ladang “emas hitam” yang mereka tinggalkan hampir satu dasawarsa lebih.

Seiring perkembangan teknologi pengolahan kopi, dalam lima tahun terakhir, dan meningkatnya jumlah penikmat kopi di kalangan muda Aceh, tidak kecuali juga di Pidie, harga komoditi kopi Tangse berangsur naik. Dari awalnya hanya Rp 20 ribu per kilogram, kini menjadi Rp 30 ribu. Bahkan kopi robusta jenis premium dihargai Rp 45 ribu hingga Rp 50 ribu per kilogram.

Kecamatan Tangse merupakan kecamatan yang menjadi sentra budidaya kopi Liberika di Kabupaten Pidie, Aceh. Kopi Liberika memiliki ciri khas cita rasa, buah berukuran lebih besar dibanding Robusta dan produktivitas lebih tinggi. Kopi Liberika juga mampu beradaptasi di lahan gambut dengan tanaman penaung pohon pinang sehingga Kopi Liberika menjadi jenis kopi unggul dibanding Robusta dan Arabika.

Bicara masalah Tangse memang tidak ada habisnya jika ingin dikupas, mulai dari cerita dara Tangse yang cantiknya bak bidadari hingga sumberdaya alam yang melimpah ruah di sana.

Letak geografis yang tinggi serta dibarengi dengan kesuburan alam yang luar biasa membuat tanah Tangse menjadi lahan yang sangat cocok untuk ditanami kopi. Kopi Liberika merupakan salah satu komoditas unggulan Kecamatan Tangse dan menjadi sumber mata pencaharian utama bagi penduduk di Tangse dan sekitarnya.

Masyarakat Tangse tahu betul memanfaatkan keunggulan itu, benar saja. Salah satu komoditas unggulan tangse saat ini adalah kopi. Bak seorang gadis berparas menawan, itulah dia, “Kopi Liberika” cantik, wangi dan menggoda.

Bagi pecinta kopi, “Kopi Liberika” memang terdengar masih belum familiar, namun perlahan minuman berwarna hitam itu mulai memikat hati masyarakat, khususnya daerah sekitar. Rasanya yang begitu kentara membuat siapa saja yang mecicipinya ketagihan dan ingin mencobanya lagi.

Hal ini coba dimanfaatkan oleh BUMG Bukit Indah Gampong Blang Dhod, Kecamatan Tangse Kabupaten Pidie untuk mengembangkan potensi kopi. Dengan memproduksi tiga jenis varian kopi, yaitu Arabika, Robusta, dan Liberika, diolah melalui proses roasting yang bisa menghasilkan aroma khas tiap jenis kopi.

Keuntungan lain yang didapat adalah bisa meningkatkan perekonomian petani kopi. Mereka sudah mampu memproduksi dan mengemas produk kopi menjadi komoditas siap jual secara langsung di “desa”.